Mengingat Kembali Masa Awal da'wah Rasulullah S.A.W

Pengajian Bulan July dengan Ustadz Muhammad Yahya

Mengingat Kembali Masa Awal da'wah Rasulullah S.A.W

Kali ini kita mencoba untuk mengingat kembali masa da’wah Rasulullah di Makkah dan yang nantinya diakhiri dengan peristiwa isra mi’raj.

Pada awal masa da’wah 10 tahun pertama di Makkah, Rasulullah melakukannya secara Gradual yaitu sedikit-sedikit orang masuk Islam dan Punishment secara terus-menerus yaitu cobaan selalu yang dialami Rasulullah dalam melakukan da’wah.

Kita lihat peristiwa pertama yang dialami Rasulullah, yaitu ketika melakukan da’wah di bukit safa. Datanglah Abu Jahal memaki-maki Rasulullah dengan perkataan yang sangat kasar sehingga Rasulullah sangat dipermalukan pada saat itu dan terlebih lagi Abu Jahal memukul Rasulullah hingga berdarah. Ini peristiwa yang sering dialami Rasulullah, sampai suatu saat ketika Rasulullah pulang kerumah dengan rambut berdarah-darah, Fatimah menangis dan Rasulullah berkata “La tarjia ibnaka fa innallaha naa firun alal aziz” jangan menangis wahai anakku, sasungguhnya Allah menjadi penolong ayahmu.

Yang menjadikan Rasulullah dimusuhi adalah bukan karena keadilannya atau kebaikan ahlaknya tetapi karena ajakannya untuk kembali pada Allah dan menerima Islam. Kejadian dimusuhinya Rasulullah memicu hal yang menarik yaitu dikala da’wah Islam tidak ada bantuan, Hamzah paman Rasulullah menerima Islam. Yang menariknya adalah Hamzah masuk Islam karena marah mendengar Rasulullah dipermalukan dan dicaci-maki oleh Abu Jahal. Maka Hamzah menemui Abu Jahal dan berkata “Sesungguhnya Muhammad ini keponakanku dan aku ikut agama yang dibawanya”.

Kita dapat melihat hikmahnya dari ini bahwa manusia masuk Islam karena bermacam-macam factor; ada yang karena pernikahan, mendengar Qur’an, atau karena amarah. Karena itu jangan memandang rendah kepada seseorang yang masuk Islam karena sesuatu factor, tetapi lihat apa yang dilakukan setelah masuk Islam, seperti contoh Hamzah paman Rasulullah yang digelari “Syaifullah” Pedangnya Allah S.W.T yang kemudian Syahid membela Islam di perang Uhud.

Sementara itu, da’wah Rasulullah semakin mendapat perlawanan dan tekanan yang dari suku Quraisy, sehingga Rasulullah berdo’a kepada Allah agar diberikan Izzah kepada agama Islam ini dengan keislaman dua orang yaitu Abu Jahal bin Hasyim atau Umar ibn Khattab, dan ini dijawab oleh Allah dengan masuk Islamnya Umar ibn Khattab. Umar ibn Khattab masuk Islam karena mendengar Rasulullah membaca Qur’an, pada saat itu surah Al-Ahqaf, mendengar itu Umar merasakan seperti berdialog dengan al-Qur’an.

Masuk Islamnya Hamzah dan Umar berpengaruh besar terhadap kemajuan da’wah Rasulullah, akan tetapi bukan berarti lebih mudah dalam melakukan da’wah karena Rasulullah tetap mendapat tekanan dan perlawanan yang berat dari suku Quraisy. Salah satu tekanan yang dilakukan oleh suku Quraisy dan suku-suku lainnya adalah melakukan boykot sosial dengan tidak melakukan perdagangan dan hubungan apapun dengan kaum muslimin pada saat itu. Yang kemudian menyebabkan kaum muslimin harus berpindah dari kota Makkah ke lembah Syi’it sehingga terisolasi dengan tidak mendapat suplai makanan dari luar. Pada saat itu sebagian dari Sahabat sampai-sampai ada yang memakan rumput, tetapi karena untuk mempertahankan aqidah Islam maka para sahabat Rasulullah tetap bertahan dan tetap melakukan perjuangan da’wah.

Perjalanan da’wah Rasulullah kemudian mengalami cobaan lebih berat ketika meninggalnya Abu Thalib dan Siti Khadijah dalam waktu yang berdekatan. Abu Thalib saat itu dikenal sebagai orang selalu melindungi Rasulullah yaitu sebagai external defendernya da’wah Rasulullah.

Hikmah yang diajarkan dari perjalanan da’wah Rasulullah ini adalah setiap orang akan mendapat musibah dan pilihan bersandar terbaik adalah kepada Allah S.W.T, karena terkadang kita selalu menyandarkan suatu masalah kepada orang lain untuk pertolongan tetapi kita lupa terhadap Allah S.W.T maka dzikir yang terbaik adalah “Hasbunallah wa ni’mal wakil ni’mal maula wa ni’mannasir” sebaik-baiknya yang dapat menolong kita dan mewakili kita adalah Allah S.W.T.

Selanjutnya setelah meninggalnya Abu Thalib dan Siti Khadijah, Rasulullah mencoba untuk melakukan perjanjian dengan Bani Tha’if. Bersama Zaid bin Haritsah, Rasulullah datang ke Bani Tha’if untuk mengajak menerima Islam dengan harapan untuk dapat tinggal di Tha’if, akan tetapi yang dialaminya adalah ditolak oleh pimpinan bani Tha’if dan terlebih dilempari batu oleh orang-orang dari bani Tha’if, maka Zaid bin Haritsah-lah yang menjadi tameng Rasulullah denga membiarkan dirinya mendapat dari lemparan batu sampai berdarah-darah. Sehingga Rasulullah sampai diperkebunan Utbah bin Rabiah, dan kemudian Rasulullah membacakan do’a orang lemah yang menarik untuk direnungkan. “Yaa Allah aku adukan kelemahan kekuatanku dan sedikitnya upayaku dan kehinaanku dihadapan manusia-manusia itu wahai dzat yang paling penyayang diantara yang penyayang, Engkaulah Tuhan orang-orang yang lemah dan Engkaulah Tuhanku , kepada siapa Engkau akan mewakilkan aku ini Yaa Allah, apakah kepada orang yang jauh yang menghinakanku ataukan kepada musuh yang akan mewakilkan urusanku, Yaa Allah kalaupun aku harus menghadapi cobaan seberat apapun aku tidak peduli, asalkan Engkau tidak marah, Yaa Allah.” Kalau kita coba renungkan, Rasulullah yang menghadapi cobaan yang sangat berat dalam perjuangan da’wahnya hanya berkata “ Aku tidak peduli dengan cobaan apapun asalkan Engkau Tidak marah padaku, Yaa Allah”, begitu halusnya Rasulullah dalam menghadapi cobaan.

Diriwayatkan dalam Hadist Imam Bukhari ketika Rasulullah membacakan Do’a itu, dikatakan malaikat Jibal mendatangi Rasulullah dan berkata “Yaa Muhammad, sesungguhnya Allah S.W.T telah mendengar ucapan kaum Tha’if tesrsebut, Aku inilah malaikat Jibal (gunung), Allah mengutusku kepadamu untuk engaku perintahkan aku terserah semaumu, kalau engkau hendaki aku akan runtuhkan gunung ini kepada orang-orang Tha’if”.Dan Rasulullah menjawab “ Wahai malaikat, sesungguhnya yang aku inginkan adalah agar Allah mengeluarkan tulang sulbi dari mereka itu orang-orang Tha’if keturunan yang menyembah Allah S.W.T”. Dan dikabulkan do’a Rasulullah ini dengan lahirnya ulama-ulama dari Tha’if sampai saat ini.

Do’a Rasulullah ini juga didengar oleh dua orang anak Utbah bin Rabiah yang sedang mengejar dan ingin membunuh Rasulullah. Akan tetapi yang terjadi adalah dua orang anak Utbah bin Rabiah tersentuh hatinya dan tidak jadi membunuh Rasulullah dan malah menyuruh seorang pekerja kebunnya yaitu Adzad untuk memberikan anggur kepada Rasulullah. Kemudian Rasulullah menerimanya dengan tangan berlumuran darah sambil menyebutkan “Bismillahirahmannirrahim”. Mendengar kalam itu Adzad terkagum-kagum begitu indahnya dan begitu religiusnya kata-kata itu. Kemudian Adzad berkata “Sungguh aku tidak pernah mendengar kalam ini dan tidak ada penduduk Tha’if pun yang pernah mengucapkan kata-kata itu” sehingga kemudian masuk Islamlah Adzad hanya dengan mendengar dan melihat sikap Rasulullah.

Hikmah yang dapat diambil dari riwayat diatas tadi adalah jangan cepat putus asa dalam melakukan da’wah dana tetap persistence dalam keadaan apapun untuk ber’dawah karena sungguh efek dari da’wah itu terkadang tidak secara langsung maka kewajiban kita adalah untuk terus mengingatkan dan mengajak pada kebaikan. Terlebih lagi Islam itu dapat menyentuh orang kalau kita berda’wah dari hati dengan karakter dan perilaku yang baik, sebagaimana Rasulullah contohkan. Kita sering menjadi pencegah orang masuk Islam, karena akhlak dan perilaku kita yang tidak Islami.

Setelah kejadian tersebut diatas, Rasulullah kembali ke Makkah, ditengah perjalan pulangnya Rasulullah menegakkan Shalat bersama dengan Zaid bin Haritsah dan Rasulullah membaca sebuah ayat dimana turun para Jin yang sedang melakukan perjalanan dan berhenti mendengarkan Rasulullah dan Jin itu memerintahkan kepada golongannya untuk mendengarkan ayat yang dibacakan Rasulullah yang akhirnya masuk Islam.

Dengan semua kesulitan dan cobaan yang dialami Rasulullah, Allah menghadiahi Rasulullah perjalanan Isra Mi’raj.

Pesan yang dapat kita ambil dari tarekh/peristiwa diatas adalah Teruslah berda’wah dengan menggunakan seluruh kapasitas kita terutama dengan kata-kata baik dan dengan akhlak karena da’wah dengan akhlak itu jauh lebih mumpuni dibandingkan dengan lisan. Kemudian pesan kedua adalah cobaan itu semua datangnya dari Allah, maka yang dapat kita lakukan adalah berserah dan bersandar diri hanya pada Allah S.W.T dan jangan bersandar kepada makhluk yang lemah yaitu selain dari Allah S.W.T.

Allahu a'lam bissawab.