Tausiyah Ust. Yahya: Kisah Paman Rasulullah - Abu Lahab

Pengajian Tanggal 10-04-2010 bertempat di Altona Meadows

Tausiyah dari Ustadz Muhammad Yahya.

Kisah Paman Rasulullah S.A.W Abu Lahab.

Sungguh akan sangat mulia kepada orang2 yang berkumpul dengan tujuan untuk mencari ridho Allah, terlebih apabila bersama2 membaca dan mengkaji Al-Quran. Di riwayatkan dari Abu Hurairah r.a , Rasulullah s.a.w berkata “Tidaklah beruntung dari suatu kaum dirumah dari rumah-rumah Allah S.W.T mereka membaca kitab Allah, mereka bertadarus mentadaburi diantara mereka kecuali Allah turunkan kepada mereka ketentraman, kedamaian dan Allah liputi dengan kasih sayang dan malaikat melingkupi dia dan Allah menyebut mereka disisiNya.” H.R. Muslim.

Kajian pada kali ini adalah kisah tentang paman Rasulullah S.A.W yaitu Abu Lahab. Allah telah menceritakan tentang Abu Lahab dalam Al-Quran pada surat Al-Lahab sebagai orang yang selalu berupaya untuk menghalangi da’wah Rasulullah. Paman dari Rasulullah ini selalu memusuhi Rasulullah dan terlebih selalu mencoba untuk mencelakai Rasulullah.

Allah menjuluki paman Nabi Muhammad yang satu ini sebagai Abi Lahab dalam Al-Quran yang berarti lidahnya api neraka atau bapaknya neraka, ini dikarenakan sudah menjadi jeleknya karakter dari Paman Nabi itu. Nama Paman Nabi ini sebenarnya Abdul Ubbah bin Abdul Mutallib, tapi Al-Quran tidak menyebutkan nama ini karena memang tidak layak untuk disebutkan untuk beliau dikarenakan sudah sangant jeleknya karakter Abu Lahab ini.

Kata “Tabba” itu bermakna keruksakan atau kerugian, “Tabbat Yaadaa” artinya Hancur atau rugi bagi kedua tangan Abu Lahab, yang bermakna sungguh celaka dan kehancuran bagi Abu Lahab yang telah membuat keruksakan dan memusuhi Rasulullah. Diriwayatkan Rasulullah pada suatu saat mengundang orang2 untuk datang untuk memberikanperingatan dan kabar gembira tentang Allah, tapi apa yang dilakukan oleh Abu Lahab adalah mengambil batu2 dan melempari Rasulullah seraya berkata “ sungguh celaka hari2mu dan seterusnya akan celaka wahai Muhammad” karena itu Ayat pertama surat Al-Lahab ini tertuju kepada kedua tangan Abu Lahab tetapi tidak hanya untuk kedua tangannya saja melainkan untuk keseluruhan Abu Lahab dan ini untuk memberi peringatan betapa kurang ajarnya Abu Lahab ini melebihi apapun terhadap Rasulullah.

Kemudian pada ayat kedua “maa agna” yang artinya tidak memberikan keutamaan, tidak ada untungnya bagi kamu, harta bendamu. “maluhuu wamaa kasab” sebagian mufassir merujuk kepada harta kekayaan Abu Lahab yang datang dari ayahnya. Kata “ Maluhuu” ini menunjukkan umumnya harta, yaitu harta apapun juga, sedangkan “wamaa kasab” menunjukkan pengkhususan bahwa harta itu tidak akan nada gunanya, karena di hari akhir nanti “ Yaumun laa yan fa’un maa nuun wala banun” semua harta benda, pangkat, jabatan, anak tidak ada gunanya kecuali yang datang dengan “fi qolbin salim” hati yang bersih tidak ada dengki. Ini terkait dengan kata2 Abu Lahab pada saat Rasulullah berda’wah kepada Abu Lahab, “ Apabila engkau benar wahai Muhammad, maka kelak di hari akhir nanti di neraka akan aku tebus dengan harta bendaku” pikir Abu Lahab, karena itu Al-Quran menegaskan “Maa agna an humaaluuhu wamaa kasab” apapun yang engkau punyai itu tidak ada gunanya dimata Allah pada hari akhir nanti.

Lalu ayat berikutnya dalam surat Al-Lahab berkata “sayaslanaron zatalahab” yang berarti kepastian bagi abu Lahab untuk masuk neraka dan disini Al-Quran menunjukkan bahwa karakter Abu Lahab ini memang pantasnya masuk Lahab atau lidahnya api neraka. Kalau kita mengingat pada Hadist Rasulullah yang berkata “ Apabila orang itu ahli Surga maka Allah akan memudahkan dia untuk berbuat kebajikan, dan apabila orang itu ahli neraka maka sesungguhnya Allah akan melepaskan dia untuk berbuat kejelekan” sungguh dalam pikiran Abu Lahab ini yang ada hanya untuk melawan dan menyakiti Rasulullah sehingga tidak ada sedikitpun keinginan untuk beribadah kepada Allah.

Kemudian disebutkan pada ayat berikutnya “Wamroatuhuu hamma latal hatob”, tersebut istri dari Abu Lahab yaitu Ummu Jamil yang termasuk golongan orang2 kaya dan secara kesukuan termasuk orang yang tinggi di Makkah, tetapi tanpa dia merasa malu dan hina Ummu Jamil rela mengambil dan mengumpulkan kayu2 berduri pada malam hari dari hutan hanya untuk diletakkan pada jalan2 yang selalu dilewati Rasulullah agar Rasul tersakiti, karena sangat benci dan marahnya Ummu Jamil terhadap Rasulullah. “Fiijidiha hablummimmasad”, dan pada lehernya Ummu Jamil itu terdapat sabut untuk membawa kayu2 berduri itu dengan jumlah yang banyak.

Singkatnya pada surat Al-Lahab ini menunjukkan kepada kita kepada satu keluarga yang membenci Rasulullah dan menolak ajaran Islam, dengan tidak hanya pada hatinya saja tetapi menolak dengan ucapan dan perbuatannya, dan Al-Quran menyebutkan pada keluarga itu dengan sebutan yang sangat buruk dengan sebutan Abu Lahab. Lebih dari itu untuk kita renungkan bahwa pada hari akhir nanti kita dipanggil dengan berkelompok dengan imam2 kita atau dengan amalan2 kita dan bahwasannya siapapun juga yang berusaha untuk melawan dan mencerca Rasulullah, menolak ajarannya dan menghalangi da’wah Islam maka embahnya itu adalah Abu Lahab. Kalau kita simak dalam Al-Quran surat Al-Isra “ nanti pada hari kiamat para manusia itu akan dipanggil oleh Allah S.W.T bersama dengan imam2 mereka, dengan tuan2 mereka dan juga dengan amalan2 mereka” artinya ada kesamaan kita ini akan dipanggil oleh Allah secara berkelompok2, apabila orang tersebut sukanya membohong maka akan bersama dalam kelompok orang berbohong, apabila orang tersebut suka mencerca Islam maka akan dikelompokkan dengan sesamanya. Kemudian lanjutan dari surat Al-Isra tersebut mengatakan “ dan barangsiapa yang menerima catatan amalnya di tangan kanannya, maka ia akan dapat membacanya, sesungguhnya Allah tidak akan mendhalimi sedikitpun terhadap siapapun tentang amalannya.”

Pada akhirnya siapapun juga yang menentang ajaran Allah dan Rasul-nya kelak tidak ada yang bisa diandalkan kecuali keburukan di mata Allah pada hari kiamat nanti. Berdasarkan pelajaran dari surat Al-Lahab ini apa yang bisa kita lakukan adalah agar mencintai Islam dan ajarannya secara Kaffah, tidak akan nada yang menolong kita kecuali amal2 baik kita. Terakhir kita mencoba mengingat kisah seorang sahabat yang bertanya dan meminta wasiat kepada Rasulullah, Rasul menjawab “ La taghdab wa lakal jannah” artinya janganlah kamu marah maka surga bagimu. Salah satu cara agar kita tidak terjerembab kedalam kesalahan dalah mengendalikan amarah yang sesungguhnya akan menjauhi dari perbuatan dosa. Maka salah satu doa yang diajarkan Rasulullah adalah “ Allahumma inni as’aluka kalimatal haq fi ridho wal godho”, Ya Allah anugrahkan kami kalimat yang benar dalam keadaan aku ridho atau dalam keadaan aku marah.

Allahualam bissawab.